Bahasa Indonesia
Bank Indonesia (BI) terus memperkuat pengembangan talenta digital nasional guna mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara optimal dan produktif.
Upaya tersebut dilakukan melalui inisiatif nasional berjajuk "PIDI-DIGDAYA x Hackathon 2026", yang mengedepankan penguatan inovasi digital dan kewirausahaan bagi generasi muda.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dalam keterangan yang diterima di Badung, Bali, Kamis, menyampaikan melalui program tersebut BI membekali talenta digital muda dengan kompetensi teknis di bidang inovasi digital dan kewirausahaan.
"Ini adalah momentum bagi kita semua untuk berubah, belajar, dan untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk berbagai kepentingan yang bermanfaat," ujar Perry.
PIDI-DIGDAYA x Hackathon 2026, yang digelar pada akhir April di Jakarta, merupakan inisiatif nasional yang diinisiasi oleh Bank Indonesia bersama OJK, industri, dan berbagai mitra strategis untuk mendukung transformasi ekonomi dan keuangan digital di Indonesia.
Dalam sesi Studium Generale PIDI bertema Shaping Indonesia's Digital Minds: Building Talent for an Innovation-Driven Economy, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Stella Christie menekankan pentingnya menyiapkan talenta digital yang mampu memanfaatkan sekaligus mengevaluasi teknologi AI secara kritis.
Mengacu pada berbagai proyeksi global, termasuk World Economic Forum, hingga 2030 diperkirakan akan tercipta sekitar 170 juta pekerjaan baru.
Namun, sekitar 92 juta pekerjaan juga diproyeksikan terdampak atau hilang, sementara sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja diperkirakan mengalami perubahan.
"Transformasi digital dimulai dari cara berpikir, bukan teknologinya. Di tengah perubahan yang begitu cepat, kita tidak boleh terjebak pada hype. Yang perlu dikembangkan adalah keterampilan yang berpusat pada manusia, seperti creative dan analytical thinking, talent management, kepemimpinan, hingga kemampuan beradaptasi. Jika tidak ingin tergantikan dalam jangka pendek, kita harus melatih keterampilan yang tidak mudah direplikasi oleh AI," jelas Stella.
Sementara itu, di tengah penguatan ekosistem talenta digital tersebut, perusahaan teknologi finansial Flip turut membagikan pengalaman dalam membangun inovasi berbasis kebutuhan nyata masyarakat.
Co-Founder Flip, Rafi Putra Arriyan, dalam sesi Turning Mindset into Real-World Innovation mengatakan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari ide besar, melainkan dari pemahaman mendalam terhadap persoalan yang benar-benar dialami pengguna.
"Flip dimulai dengan memberikan solusi inovatif dari satu masalah finansial yang paling riil, yaitu mengirim uang. Namun seiring kami semakin memahami kebutuhan pengguna, inovasi yang sesungguhnya terjadi ketika kita tetap dekat dengan mereka dan memahami kebutuhan mereka. Dengan begitu, kita bisa menemukan berbagai masalah lain yang berkaitan dengan cara mereka berbelanja hingga menabung," katanya.
Berawal dari solusi sederhana untuk menghilangkan biaya transfer antarbank, Flip kini berkembang dengan menghadirkan berbagai layanan, mulai dari pembayaran kebutuhan harian, transfer ke luar negeri, hingga fitur yang terintegrasi dengan ekosistem digital nasional. Saat ini, Flip telah melayani lebih dari 16 juta pengguna di Indonesia.
Menurut Rafi, banyak inovasi gagal berkembang karena hanya menarik secara konsep, tetapi tidak menjawab kebutuhan pasar secara nyata. Karena itu, pemahaman terhadap pain point pengguna menjadi faktor utama dalam membangun inovasi yang berkelanjutan.
"Start small mindset. Dulu kami pikir inovasi berarti menciptakan sesuatu yang belum pernah ada. Ternyata, inovasi yang paling sulit adalah memberikan solusi yang tetap relevan terhadap masalah yang terus berubah. Bagi kami inovasi membutuhkan keberanian, kerendahan hati, kolaborasi, dan kesabaran," kata Rafi.
Sumber : antaranews.com (2026)
